Kabar17.ud, Padang, 8 Juli 2026 – PT Semen Padang resmi melakukan pengadaan 73 unit motor listrik Polytron FOX 350 melalui PT Pasoka Sumber Karya yang akan digunakan sebagai kendaraan operasional dinas di dalam wilayah pabrik PT Semen Padang di Sumatera Barat. Seremoni penyerahan unit dilakukan pada Selasa (07/07) sekaligus penegasan komitmen bersama untuk akselerasi kendaraan listrik di Sumatera Barat.
Kepala Unit Komunikasi dan Kesekretariatan PT Semen Padang, Idris, selaku pengelola kendaraan dinas operasional menyampaikan:
“Saat ini, PT Semen Padang mulai banyak menggunakan kendaraan listrik sekaligus mendukung pemanfaatan energi ramah lingkungan. Inisiatif ini kami harap agar PT Semen Padang dapat menjadi percontohan bagi industri semen ataupun BUMN lainnya di area Sumatera.”
Adopsi kendaraan listrik melalui B2B (business-to-business) ini semakin menambah catatan penjualan motor listrik Polytron. Sebelumnya pada bulan Juni 2026, Polytron dipercaya sebagai produsen dalam menyediakan 500 unit motor listrik kepada PLN UID Jawa Timur. Suplai sebanyak 73 unit Polytron FOX 350 ke PT Semen Padang ini semakin menegaskan kepercayaan industri terhadap kualitas motor listrik Polytron.
(Prosesi serah terima 73 unit Motor Listrik Polytron FOX 350 di kantor PT Semen Padang. Dari kiri ke kanan: Yoeke Setiatmaja (Sales Development Executive Polytron), Idris (Kepala Unit Komunikasi dan Kesekretariatan PT Semen Padang), Erick (Perwakilan PT Pasoka Sumber Karya).)
Pemilihan Polytron FOX 350 dinilai sebagai opsi mobilitas yang sangat tepat karena menawarkan model modern dan spesifikasi teknis yang memenuhi standar kelayakan tinggi untuk mendukung kerja lapangan yang intens. Unit motor listrik ini akan dimanfaatkan secara spesifik untuk mobilitas kendaraan dinas operasional di area kompleks pabrik PT Semen Padang, Sumatera Barat.
Hal ini selaras dengan komitmen pemerintah dalam mencapai Net Zero Emissions 2060. Secara akumulatif, seluruh armada motor listrik Polytron yang mengaspal di Indonesia telah menempuh jarak lebih dari 585 juta kilometer dan berhasil memangkas emisi karbon hingga lebih dari 7,1 juta kg CO₂e, atau setara dengan menanam 322.727 pohon dewasa. Populasi penggunanya pun terus mendominasi dengan basis komunitas terbesar di tanah air yang kini mendekati 55.000 pengguna. Melalui kehadiran armada operasional baru ini, PT Semen Padang dan Polytron menunjukkan bahwa ekosistem kendaraan listrik nasional sudah matang, aman, dan siap digunakan untuk kebutuhan harian masyarakat maupun operasional berat kedinasan.
“Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki oleh Polytron FOX 350 dan dimulainya adopsi kendaraan listrik oleh PT Semen Padang semoga dapat menginspirasi karyawan, keluarganya dan masyarakat luas dapat mendukung green industry di Sumatera Barat,” ujar Idris.
(Kepala Unit Komunikasi dan Kesekretariatan PT Semen Padang, Idris saat memberikan arahan.)
Sementara itu, Head of Group Product EV 2-Wheels Polytron, Ilman Fachrian Fadly menyampaikan dipilihnya 73 unit Polytron FOX 350 oleh PT Semen Padang merupakan penegasan bahwa kualitas motor listrik kami telah teruji dan diakui layak untuk kerja lapangan berintensitas tinggi, termasuk untuk mobilitas dinamis petugas di berbagai medan di Sumatera Barat.
“Di usia 50 tahun ini, kami terus berkomitmen untuk menghadirkan solusi mobilitas masa depan yang andal dan berkelanjutan bagi Indonesia. Kami berharap unit kendaraan listrik Polytron FOX 350 sebanyak 73 unit dapat meningkatkan kualitas layanan PT Semen Padang karena kepraktisannya dan minim perawatan, sehingga seluruh petugas di area kompleks pabrik dapat menjalankan tugasnya dengan lebih efisien,” kata Ilman.
Keberhasilan FOX 350 meraih penghargaan motor listrik terbaik didukung oleh penyematan fitur teknologi masa depan yang berfokus pada kenyamanan dan keamanan berkendara. Motor listrik ini telah dilengkapi dengan smart keyless system, konektivitas smartphone, regenerative braking level 2 untuk efisiensi daya maksimal, cruise control, serta hill start assist yang memberikan kendali optimal di medan menanjak sesuai kontur Sumatera Barat.
Selain keunggulan teknologi, adopsi Polytron FOX Series juga didorong oleh fleksibilitas skema kepemilikan. Polytron memberikan kebebasan bagi konsumen untuk memilih opsi buy-to-own (beli putus beserta baterai) atau menggunakan skema sewa baterai. Skema sewa ini menjadi solusi bagi konsumen yang ingin menekan biaya awal pembelian sekaligus mendapatkan jaminan perawatan dan penggantian baterai seumur hidup selama masa sewa.
[8/7, 20.50] SUMIYATI: Membaca Pesan Damai di Ruang Digital: Mengapa Kemanusiaan Harus Lebih Besar dari Prasangka?
Media sosial saat ini sering kali jadi tempat perdebatan yang melelahkan. Kalau kita perhatikan isi beranda kita, informasi yang lewat hampir selalu penuh dengan perdebatan mulai dari masalah sosial, politik, sampai soal perbedaan gender dan identitas yang sering bikin warganet terpecah belah.
Di sela-sela banyaknya perbedaan pendapat itu, kadang ada pesan menyentuh yang terabaikan. Padahal, pesan tersebut mengingatkan kita tentang hal paling mendasar sebagai manusia yaitu pilihan untuk tetap saling menyayangi di tengah dunia yang makin mudah menghakimi.
Sebuah catatan refleksi berbentuk puisi yang ditulis tangan oleh Diano Khalifaa menarik untuk dicermati. Dalam sebuah kesempatan berbagi cerita dengan penulis di Jakarta pada Selasa, 7 Juni 2026 lalu, sosok yang dikenal sebagai seorang transgender influencer sekaligus pengusaha ini menunjukkan bait-bait tulisan personal yang ia buat sendiri.
Melalui tulisan itu, ia mengajak untuk sejenak menepi dari ramainya dunia maya dan kembali berfokus pada nilai kemanusiaan. Lewat untaian kalimat tersebut, ia menunjukkan bahwa esensi kebaikan universal tetap menjadi hal yang paling utama dalam kehidupan bermasyarakat.
Berikut puisi refleksi kemanusian dari catatan lengkap yang ditulis langsung oleh Diano Khalifaa:
” _Identitasku bukanlah batas untuk mencintai.
Aku memilih untuk menjadi tangan yang menolong, bahu yang menguatkan, dan hati yang tetap terbuka bagi siapa pun yang membutuhkan.
Berbagi kasih menjadi penyeimbang saat dunia luar terasa penuh dengan kebencian.
Memilih memahami dan menahan diri untuk tidak langsung menghakimi perbedaan di sekitar kita.
Menjadi penyembuh dan memberikan dampak baik, alih-alih ikut larut dalam ucapan yang menyakitkan.
Aku percaya, pada akhirnya bukan tentang siapa kita dilahirkan, melainkan seberapa besar cinta yang kita tinggalkan di hati orang lain.
Jika keberadaanku membuat seseorang merasa diterima, jika senyumku mampu menghapus air mata seseorang, maka hidupku telah memiliki arti.
Karena kasih tidak memiliki jenis kelamin, cinta tidak mengenal label, dan kemanusiaan selalu lebih besar daripada segala prasangka.”_
Jika diresapi maknanya, untaian kalimat di atas membawa pesan yang sangat kuat. Di saat ruang publik sangat mudah dipenuhi komentar negatif, memilih untuk menjadi seseorang yang merangkul sesama tanpa melihat latar belakang adalah sebuah sikap yang sangat dewasa.
Sebagai seorang transgender influencer, Diano tentu tidak lepas dari berbagai stigma dan pandangan miring. Namun, melalui coretan tangan ini, ia mengingatkan bahwa keberanian sejati di zaman sekarang bukan lagi soal memenangkan argumen atau membalas kebencian di kolom komentar. Keberanian sejati adalah bagaimana seseorang tetap mampu bertahan, berbuat baik, tumbuh sebagai pengusaha, dan menebar manfaat, bahkan ketika lingkungan sekitar memberikan penolakan atau salah paham.
Pada akhirnya, nilai seorang manusia tidak diukur dari bagaimana ia dilahirkan atau apa label identitas yang menempel pada dirinya. Nilai sejati kita dilihat dari seberapa besar manfaat, kebahagiaan, dan kedamaian yang bisa kita tinggalkan di hati orang lain.
Di tengah ramainya media sosial yang sering bikin stres, kembali ke nilai-nilai dasar kemanusiaan ini adalah yang penting. Pesan ini mengingatkan, tanpa memandang latar belakang apa pun, bahwa menjaga rasa kemanusiaan dan saling menghargai adalah tugas bersama yang tidak boleh selesai.
[8/7, 20.50] NINDA RAMADHANI: Kasih Tak Mengenal Label: Pesan Kemanusiaan Diano Khalifaa untuk Dunia yang Terlalu Mudah Menghakimi
