Kabar17.id, Jakarta – LaSisi Picture kembali menghadirkan karya layar lebar melalui film “Sofia”, sebuah drama yang mengangkat isu kekerasan, trauma, dan kompleksitas sisi gelap manusia. Film ini disutradarai oleh Adis Kayl, dengan naskah yang ditulis oleh Benyamin, serta dibintangi oleh Wulan Guritno, Carissa Perusset, Anantya Kirana, Nugie, dan Kiki Narendra.
Film tersebut diperkenalkan kepada publik dalam acara Press Conference Cast Reveal Film “Sofia” di Cinepolis Senayan Park, Jakarta Pusat, Senin (13/7/2026). Dalam kesempatan itu, sutradara Adis Kayl menegaskan bahwa Sofia hadir bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai refleksi atas persoalan yang masih kerap terjadi di tengah masyarakat.
Menurut Adis, film ini mengajak penonton memahami bahwa setiap tindakan kekerasan akan meninggalkan dampak yang panjang bagi korban. Karena itu, ia berharap pesan yang dibawa Sofia dapat menyentuh hati penonton dan membuka ruang untuk berdialog mengenai pentingnya menghentikan segala bentuk kekerasan.
“Apapun visual yang nantinya hadir di layar, bukan semata-mata soal estetika, tetapi bagaimana kedalaman ceritanya bisa dirasakan. Sofia hanyalah sebuah karakter yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua,” ujar Adis.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada alasan yang dapat membenarkan kekerasan, sekalipun korban dianggap memiliki perilaku yang buruk.
“Sekecil apa pun bentuk kekerasan, harus dihentikan. Kekerasan dapat menjadi kebiasaan bagi pelakunya, sementara bagi korban akan meninggalkan trauma yang bahkan bisa diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Penulis naskah Benyamin mengungkapkan bahwa ide cerita Sofia lahir dari peristiwa nyata yang ditemuinya di lingkungan sekitar. Melalui film ini, ia ingin mengajak masyarakat melihat bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk berada dalam situasi yang sulit, sehingga empati menjadi hal yang penting.
“Saya melihat sisi gelap itu ada dalam setiap manusia. Karena itu jangan merasa paling mampu menjadi baik. Kita tidak pernah tahu bagaimana sikap kita ketika berada di posisi yang sama,” tutur Benyamin.
Sementara itu, Produser LaSisi Picture, Ade, menyampaikan optimismenya terhadap film Sofia. Selain menargetkan tiga juta penonton, ia berharap film ini mampu memberikan kontribusi positif bagi perfilman Indonesia melalui cerita yang relevan dan memiliki dampak sosial.
“Kami berharap proses produksi berjalan lancar dan film ini dapat diterima oleh masyarakat. Lebih dari itu, kami ingin Sofia menjadi karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membangun kepedulian, menggugah emosi, dan membuka ruang diskusi mengenai isu kekerasan yang masih terjadi di sekitar kita,” ujar Ade.
Dengan mengusung tema yang dekat dengan realitas kehidupan, Sofia diharapkan menjadi salah satu film Indonesia yang mampu menghadirkan hiburan sekaligus mengajak penonton merefleksikan pentingnya empati, penyelesaian konflik secara kekeluargaan, serta menghentikan segala bentuk kekerasan.(NDR)
