Kabar17.id, Jakarta – Film horor terbaru produksi Adglow Pictures resmi diperkenalkan dengan mengangkat mitos pohon waru sebagai inti cerita. Film ini menggabungkan unsur horor, drama emosional, serta legenda lokal yang dikenal masyarakat sebagai sumber kisah-kisah mistis.
Produser film Waru, Aji Fauzi menyebut film tersebut digarap dengan penuh tanggung jawab meski proses produksinya tidak mudah.
“Film ini kami buat dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi. Proses pembuatannya memang tidak gampang, tetapi akhirnya bisa kami hadirkan untuk penonton,” ujar Aji Fauzi di XXI Epicentrum. Jumat, (7/2/2026).
Aji mengungkapkan bahwa film ini tidak hanya ditujukan untuk pasar domestik, tetapi juga akan diputar di luar negeri. “Film ini nantinya tidak hanya tayang di Indonesia. Kami juga akan tayang di Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Kamboja, dan Vietnam,” katanya.
Ia menambahkan, penonton Indonesia diharapkan dapat lebih dulu menyaksikan film tersebut sebelum dirilis di negara lain. “Sebelum ditonton di negara lain, lebih baik ditonton di negara sendiri terlebih dahulu,” ujarnya.
Cerita film ini berangkat dari mitos pohon waru yang kerap dikaitkan dengan pengalaman mistis. Salah satu kreator cerita mengungkapkan ketakutan yang menjadi dasar pengembangan cerita film ini.
“Kalau pulang mengaji dan lewat pohon waru yang besar, selalu ada rasa takut. Di bawah pohon itu ada cerita tentang tangisan dan hal-hal mistis. Dari situ cerita ini dibuat,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa cerita tersebut memiliki filosofi tersendiri. “Filosofinya, kita tidak boleh mendongak ke atas, terutama di malam hari. Itu yang membuat merinding,” lanjutnya.
Dalam proses kreatifnya, film ini menitikberatkan kekuatan cerita dan konflik emosional. “Sebuah film tidak akan selesai tanpa kerja kreatif dari tulisan. Cerita menjadi dasar utama dalam film ini,” ujar Aji Fauzi.
Film ini menjalani proses syuting selama sekitar 16 hari, dengan tantangan pada adegan-adegan intens yang melibatkan lari, jumpscare, serta konflik emosional antar karakter. “Syutingnya cukup menantang karena banyak adegan lari, jumpscare, dan dramatisasi konflik emosional antara para karakter,” ungkapnya.
Film ini dibintangi oleh Dewi Amanda sebagai Lidya, Bella Graceria sebagai Andien, Zikri Daulay sebagai Ardian, Jinan Safa, serta Sharifah Husna dari Malaysia sebagai ibu tiri. Sejumlah aktor pendukung seperti Josiah Hogan, Sean Mikail, dan Yatti Surachman turut terlibat.
Adapun jajaran kreatif film ini terdiri dari Chiska Doppert sebagai sutradara, Ery Sofid sebagai penulis skenario, dan CK Boon sebagai Director of Photography.
Dengan mengusung mitologi lokal dan pendekatan emosional, film horor ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman menonton yang menegangkan sekaligus berlapis makna.
