KAI Siapkan Transformasi Gambir Bertahap, Perkuat Akses KA Jarak Jauh dan Integrasi Transportasi Pusat Jakarta

_Januari–Juli 2026, Stasiun Gambir Layani 3,87 Juta Aktivitas Pelanggan sebagai Gerbang Utama Perjalanan KAJJ_

PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus menyiapkan pengembangan Stasiun Gambir secara bertahap sebagai bagian dari penguatan layanan transportasi publik di pusat Jakarta. Transformasi Gambir diarahkan untuk memperkuat perannya sebagai gerbang perjalanan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ), meningkatkan konektivitas antarmoda, serta menghadirkan pengalaman perjalanan yang semakin nyaman bagi masyarakat.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, pengembangan Gambir dilakukan dengan mempertimbangkan posisi strategis stasiun yang berada di pusat Jakarta, berdekatan dengan kawasan Monas, pemerintahan, perkantoran, hotel, ruang publik, serta berbagai aktivitas masyarakat.

“Gambir memiliki peran strategis dalam ekosistem transportasi Jakarta. Pengembangannya diarahkan untuk memperkuat fungsi Gambir sebagai gerbang perjalanan KA Jarak Jauh sekaligus mendukung konektivitas masyarakat menuju pusat aktivitas Jakarta,” ujar Anne.

Sepanjang Januari–Juli 2026, Stasiun Gambir mencatat aktivitas sebanyak 3.871.579 pelanggan, yang terdiri atas 1.990.205 pelanggan naik dan 1.881.374 pelanggan turun. Data tersebut menunjukkan tingginya peran Gambir sebagai salah satu stasiun utama perjalanan KA Jarak Jauh di pusat Jakarta.

Berdasarkan kajian pengembangan New Gambir, transformasi Gambir diarahkan menjadi pusat pengalaman perjalanan yang mengintegrasikan aspek mobilitas, hospitality, leisure, dan nilai tambah kawasan. Konsep tersebut menempatkan Gambir sebagai hub interkoneksi yang menghubungkan KA Jarak Jauh, KRL, MRT, BRT, serta kawasan Monas sebagai pusat aktivitas masyarakat.

Anne menjelaskan, pengembangan Gambir dan penguatan transportasi publik Jabodetabek merupakan bagian dari upaya menghadirkan sistem mobilitas yang semakin terkoneksi.

“KAI melihat setiap stasiun memiliki peran masing-masing dalam satu sistem transportasi. Manggarai berperan sebagai pusat perpindahan antarlintas, sementara Gambir dikembangkan sebagai gerbang KA Jarak Jauh di pusat Jakarta serta bagian dari penguatan akses menuju kawasan strategis,” kata Anne.

Saat ini, Stasiun Gambir melayani 34 perjalanan KA reguler per hari dengan sekitar 78 aktivitas pemberhentian untuk naik dan turun pelanggan KA Jarak Jauh. Di sisi lain, jalur layang di kawasan Gambir juga dilintasi perjalanan Commuter Line pada lintas Jakarta Kota–Bogor dan Jakarta Kota–Nambo.

KAI menegaskan bahwa hingga saat ini Commuter Line yang melintas di kawasan Gambir belum melayani naik dan turun pelanggan di Stasiun Gambir. Potensi pengembangan layanan tersebut masih menjadi bagian dari proses bertahap yang membutuhkan kesiapan infrastruktur, kapasitas lintas, sistem operasi, aspek keselamatan, serta koordinasi dengan regulator.

“Apabila layanan Commuter Line di Gambir dikembangkan, maka berbagai aspek harus dipersiapkan secara menyeluruh, mulai dari fasilitas pelayanan pelanggan, kesiapan peron, alur perpindahan, kapasitas lintas, kelistrikan, persinyalan, hingga pola operasi. Keselamatan dan keandalan perjalanan tetap menjadi prioritas utama,” ujar Anne.

Kebutuhan penguatan integrasi transportasi di kawasan Gambir semakin relevan seiring meningkatnya mobilitas masyarakat Jabodetabek. Volume perjalanan KRL Jabodetabek meningkat dari 217.964.892 perjalanan pada 2022 menjadi 344.621.825 perjalanan pada 2025, atau bertambah 126.656.933 perjalanan dengan pertumbuhan 58,11 persen dalam tiga tahun.

Pertumbuhan tersebut juga terlihat pada lintas dengan mobilitas tinggi, salah satunya Bogor Line yang pada 2025 melayani 153.538.393 perjalanan atau berkontribusi 44,55 persen dari total perjalanan KRL Jabodetabek. Lintas Bogor Line saat ini melintas di kawasan Gambir, namun belum melayani naik dan turun pelanggan di Stasiun Gambir.

“Pertumbuhan perjalanan KRL menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas menuju pusat Jakarta terus meningkat. Karena itu, kesiapan Gambir perlu dilihat sebagai bagian dari pengembangan sistem transportasi yang terintegrasi, termasuk apabila ke depan terdapat pengembangan layanan Commuter Line di stasiun ini,” jelas Anne.

Transformasi Gambir menjadi bagian dari agenda peningkatan sistem transportasi publik Jabodetabek. Kajian New Gambir menempatkan pembenahan Gambir sebagai bagian dari penguatan kapasitas transportasi kawasan, sejalan dengan pengembangan layanan KRL, konektivitas antarwilayah, dan modernisasi stasiun strategis.

Melalui pengembangan tersebut, KAI ingin menghadirkan Gambir sebagai stasiun yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat, baik sebagai titik keberangkatan dan kedatangan perjalanan KA Jarak Jauh maupun sebagai bagian dari aktivitas masyarakat di pusat Jakarta.

“Transformasi Gambir disiapkan secara bertahap dengan memperhatikan kebutuhan pelanggan, kesiapan operasional, dan pengembangan transportasi publik Jakarta ke depan,” tutup Anne.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *