_Layanan komuter, lokal, dan kereta bandara menghubungkan kota utama dengan wilayah penyangga serta pusat kegiatan masyarakat_
Kabar17.id, PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat layanan kereta api untuk mendukung mobilitas masyarakat di berbagai kawasan aglomerasi. Kehadiran kereta api membantu menghubungkan kota utama dengan wilayah penyangga, kawasan permukiman, pusat pendidikan, sentra perdagangan, kawasan industri, destinasi wisata, hingga bandara.
Kawasan aglomerasi terbentuk ketika sejumlah kota dan kabupaten memiliki hubungan kegiatan yang erat. Masyarakat dapat tinggal di satu daerah, bekerja atau belajar di daerah lain, serta melakukan perjalanan pulang-pergi pada hari yang sama. Dalam pola tersebut, kereta api berperan menyediakan perjalanan massal yang terjadwal, terjangkau, dan mampu melayani pergerakan antardaerah dalam jumlah besar.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, pengembangan layanan kereta api di daerah diarahkan dengan memperhatikan karakter perjalanan masyarakat pada setiap kawasan.
“Batas administrasi bukan lagi batas aktivitas masyarakat. Perjalanan untuk bekerja, belajar, berdagang, berwisata, dan mengakses layanan publik semakin terhubung antarkota dan antarkabupaten. KAI menghadirkan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan mobilitas di masing-masing daerah,” ujar Anne.
Di Jawa Barat, layanan Commuter Line Bandung Raya menjadi salah satu penggerak utama mobilitas kawasan Bandung dan daerah penyangganya. Pada Semester I 2026, layanan KAI Commuter di wilayah Bandung melayani 10.106.912 pelanggan, meningkat 9,17 persen dibandingkan Semester I 2025 sebanyak 9.258.327 pelanggan.
Dalam tiga tahun terakhir, jumlah pelanggan di wilayah tersebut terus meningkat. Volume pelanggan tercatat sebanyak 14.720.252 pelanggan pada 2023, kemudian menjadi 16.159.458 pelanggan pada 2024, dan mencapai 18.727.224 pelanggan pada 2025. Dengan demikian, jumlah pelanggan pada 2025 meningkat 27,22 persen dibandingkan 2023.
Layanan di wilayah Bandung menghubungkan pusat kegiatan Kota Bandung dengan Cimahi, Padalarang, Cicalengka, Rancaekek, serta sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Purwakarta, dan Garut. Konektivitas tersebut mendukung perjalanan pekerja, pelajar, mahasiswa, pedagang, dan wisatawan di kawasan Bandung Raya dan sekitarnya.
Di kawasan Yogyakarta–Solo, Commuter Line Yogyakarta–Palur melayani 4.719.593 pelanggan pada Semester I 2026, meningkat 6,93 persen dibandingkan 4.413.690 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Layanan ini menghubungkan Yogyakarta, Klaten, Solo, hingga Palur sebagai kawasan yang memiliki hubungan kuat dalam kegiatan pendidikan, pekerjaan, perdagangan, dan pariwisata.
Mobilitas pada sisi barat Yogyakarta juga didukung Commuter Line Prameks relasi Yogyakarta–Kutoarjo. Sepanjang Semester I 2026, Prameks melayani 582.541 pelanggan, naik 6,41 persen dibandingkan Semester I 2025 sebanyak 547.449 pelanggan.
Secara keseluruhan, Commuter Line Yogyakarta–Palur dan Prameks melayani 5.302.134 pelanggan pada Semester I 2026, meningkat 6,87 persen dibandingkan 4.961.139 pelanggan pada Semester I 2025. Kedua layanan tersebut membentuk jaringan perjalanan dari Kutoarjo di sisi barat hingga Palur di sisi timur, dengan Yogyakarta dan Solo sebagai pusat aktivitas utama.
Keterhubungan Solo Raya turut diperkuat melalui KA Bandara Internasional Adi Soemarmo atau BIAS. Pada Semester I 2026, KA BIAS melayani 461.482 pelanggan, meningkat 24,73 persen dibandingkan 369.996 pelanggan pada Semester I 2025.
KA BIAS menghubungkan kawasan Solo Raya dengan Bandara Adi Soemarmo dan sejumlah pusat kegiatan di sepanjang lintas pelayanan. Layanan tersebut memberikan pilihan perjalanan bagi masyarakat menuju bandara sekaligus melengkapi jaringan transportasi berbasis rel di kawasan Yogyakarta–Solo.
Untuk memperluas konektivitas antarpusat kegiatan di Jawa Tengah dan Yogyakarta, KAI juga mengoperasikan KA Joglosemarkerto. Layanan ini menghubungkan sejumlah kota seperti Semarang, Solo, Yogyakarta, Purwokerto, Tegal, Pekalongan, dan wilayah di antaranya.
Pada Semester I 2026, KA Joglosemarkerto melayani 730.576 pelanggan, meningkat 10,29 persen dibandingkan 662.409 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya. KA Joglosemarkerto berperan sebagai layanan regional yang menghubungkan beberapa kawasan perkotaan dan pusat ekonomi di Jawa Tengah–Yogyakarta.
Di Jawa Timur, jaringan KAI Commuter melayani 8.528.571 pelanggan pada Semester I 2026, naik 8,23 persen dibandingkan 7.879.862 pelanggan pada Semester I 2025. Jumlah pelanggan pada wilayah tersebut juga meningkat dari 13.360.638 pelanggan pada 2023 menjadi 14.731.053 pelanggan pada 2024, kemudian mencapai 16.016.534 pelanggan pada 2025.
Jaringan tersebut mencakup Commuter Line Dhoho, Penataran, Supas, Jenggala, Blorasura, dan Tumapel. Layanan tersebut menghubungkan Surabaya dengan Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Mojokerto, Jombang, Malang, Blitar, serta berbagai daerah lain di Jawa Timur.
“Jaringan kereta api di Jawa Timur memperlihatkan bahwa kebutuhan perjalanan masyarakat tidak terkonsentrasi pada satu kota. Kereta api menghubungkan pusat pemerintahan, pendidikan, industri, perdagangan, dan pariwisata yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota,” kata Anne.
Di Banten, Commuter Line Merak mendukung perjalanan masyarakat pada lintas Rangkasbitung–Serang–Cilegon–Merak. Sepanjang Semester I 2026, layanan reguler tersebut melayani 2.414.115 pelanggan, meningkat 9,40 persen dibandingkan 2.206.671 pelanggan pada Semester I 2025.
Lintas tersebut menghubungkan kawasan permukiman dengan pusat pemerintahan, sentra industri, perdagangan, dan Pelabuhan Merak. KAI Commuter juga menyediakan layanan Kereta Petani Pedagang pada lintas Rangkasbitung–Merak yang telah dimanfaatkan 26.074 pelanggan selama Semester I 2026.
Pada kawasan Jabodetabek, Commuter Line melayani 176.575.981 pelanggan sepanjang Semester I 2026. Layanan ini menghubungkan Jakarta dengan Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, Rangkasbitung, dan berbagai wilayah penyangga lainnya dalam satu sistem perjalanan komuter.
Akses menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta diperkuat melalui Commuter Line Basoetta. Pada Semester I 2026, layanan tersebut melayani 1.197.413 pelanggan, meningkat 12,71 persen dibandingkan 1.062.415 pelanggan pada Semester I 2025.
Di Sumatra Barat, Minangkabau Ekspres menghubungkan Kota Padang dengan Bandara Internasional Minangkabau di Kabupaten Padang Pariaman. Layanan ini mendukung perjalanan masyarakat menuju bandara sekaligus menghubungkan sejumlah pusat aktivitas di Padang dan daerah sekitarnya.
Konektivitas Sumatra Barat turut diperluas melalui KA Lembah Anai. Pada Semester I 2026, layanan tersebut melayani 162.428 pelanggan, meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan 51.035 pelanggan pada Semester I 2025. Minangkabau Ekspres dan Lembah Anai saling melengkapi dalam memperluas akses transportasi berbasis rel di wilayah Padang dan Padang Pariaman.
KAI juga menghadirkan layanan lokal dan regional di sejumlah daerah lain, seperti KA Pangrango yang menghubungkan Bogor–Sukabumi, KA Siliwangi pada lintas Sukabumi–Cianjur–Cipatat, KA Cut Meutia di Aceh, KA Srilelawangsa dan KA Datuk Belambangan di Sumatra Utara, serta KA Kuala Stabas dan KA Rajabasa di wilayah Sumatra bagian selatan.
Setiap layanan memiliki fungsi yang berbeda sesuai karakter wilayahnya. Sebagian mendukung perjalanan komuter dalam kawasan aglomerasi, sebagian menghubungkan kota dengan bandara, sedangkan layanan lainnya memperluas akses antarkabupaten dan antarpusat kegiatan regional.
Anne menjelaskan bahwa penguatan layanan akan terus dilakukan melalui evaluasi pola operasi, kapasitas rangkaian, jadwal perjalanan, fasilitas stasiun, serta integrasi dengan moda transportasi lainnya. Pelaksanaannya mempertimbangkan kebutuhan pelanggan, keselamatan perjalanan, kesiapan prasarana, dan keberlanjutan operasional.
“Kereta api membantu mendekatkan kota utama dengan wilayah penyangganya. Konektivitas yang semakin baik membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk bekerja, belajar, berusaha, berwisata, dan memperoleh pelayanan publik di berbagai daerah,” tutup Anne.
