KAI Daop 1 Jakarta Telah Gunakan 6,5 Juta Liter B50, Keandalan Operasional Tetap Terjaga

Kabar17.id, Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta terus mendukung implementasi penggunaan bahan bakar nabati melalui pemanfaatan B50 untuk operasional sarana perkeretaapian. Hingga 10 September 2026, sekitar 6,5 juta liter B50 telah digunakan untuk mendukung operasional kereta api di wilayah Daop 1 Jakarta.

Penerapan B50 dilakukan secara bertahap dan terukur dengan mempertimbangkan kesiapan teknis sarana serta aspek keselamatan dan keandalan operasional. Uji coba pada lokomotif telah dimulai sejak Mei 2026, kemudian penggunaan B50 untuk mendukung operasional perjalanan kereta api mulai diterapkan pada Juli 2026 hingga saat ini.

Dalam penerapannya, penggunaan B50 di wilayah Daop 1 Jakarta telah mencakup lokomotif yang melayani sekitar 79 nomor perjalanan kereta api (KA) serta 49 kereta pembangkit.

Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, mengatakan implementasi B50 hingga saat ini berjalan dengan baik. Berdasarkan hasil pemantauan, tidak terdapat gangguan sarana yang teridentifikasi berkaitan dengan penggunaan B50 yang berdampak terhadap kelancaran operasional perjalanan kereta api.

“Sejak tahap uji coba pada Mei 2026 hingga penerapan dalam operasional perjalanan KA mulai Juli 2026, penggunaan B50 di wilayah Daop 1 Jakarta berjalan dengan baik. Hingga saat ini sekitar 6,5 juta liter B50 telah digunakan untuk mendukung operasional sarana perkeretaapian,” ujar Franoto.

Menurut Franoto, keselamatan, keandalan sarana, dan ketepatan waktu perjalanan tetap menjadi prioritas utama KAI dalam setiap tahapan implementasi bahan bakar baru.

*Apa Itu B50?*

B50 merupakan bahan bakar diesel yang mengandung campuran 50 persen bahan bakar nabati berbasis biodiesel dan 50 persen bahan bakar diesel. Pemanfaatan bahan bakar nabati tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan penggunaan energi terbarukan dalam sektor transportasi.

Bagi operasional kereta api, penerapan bahan bakar baru membutuhkan kesiapan teknis karena karakteristik bahan bakar dapat berpengaruh terhadap sistem bahan bakar dan komponen sarana. Oleh karena itu, implementasi B50 dilakukan secara bertahap, disertai pengujian, pemantauan performa, serta penguatan kegiatan pemeliharaan.

“Penerapan B50 bukan sekadar pergantian jenis bahan bakar. KAI memastikan aspek teknis sarana, pemeliharaan, ketersediaan bahan bakar, hingga kesiapan penanganan apabila terjadi gangguan tetap diperhatikan secara menyeluruh,” jelas Franoto.

*Pemeliharaan Sarana Diperkuat*

Untuk menjaga keandalan sarana, KAI Daop 1 Jakarta melakukan monitoring dan pemeriksaan secara berkala terhadap performa lokomotif dan kereta pembangkit yang menggunakan B50.

Pemeliharaan dilakukan secara preventif, termasuk pemeriksaan sistem bahan bakar, pemantauan kondisi komponen filtrasi, serta penggantian komponen sesuai hasil pemeriksaan dan kebutuhan teknis sarana.

Langkah tersebut bertujuan memastikan sistem bahan bakar tetap bekerja secara optimal serta mengantisipasi potensi gangguan yang dapat memengaruhi keandalan sarana.

“KAI memiliki pengalaman dalam proses transisi penggunaan bahan bakar, termasuk pada penerapan B40 sebelumnya. Pengalaman tersebut menjadi salah satu dasar dalam melakukan penerapan B50 secara bertahap dengan tetap mengedepankan keselamatan dan keandalan operasional,” kata Franoto.

Selain penguatan pemeliharaan, KAI juga memiliki skema mitigasi operasional untuk mengantisipasi apabila terjadi gangguan sarana. Kesiapan lokomotif pengganti pada titik-titik tertentu serta kereta pembangkit menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan perjalanan kereta api.

*Operasional dan Pelayanan Tetap Terjaga*

Hingga saat ini, penerapan B50 di wilayah Daop 1 Jakarta tidak menunjukkan adanya gangguan yang teridentifikasi akibat penggunaan B50 yang berdampak terhadap ketepatan waktu dan kelancaran perjalanan KA.

KAI tetap melakukan evaluasi secara berkelanjutan terhadap performa sarana untuk memastikan proses transisi bahan bakar berlangsung sesuai standar teknis yang ditetapkan.

“Selama implementasi B50, pelayanan kepada pelanggan tetap menjadi perhatian utama. Kami memastikan proses transisi bahan bakar tidak mengurangi standar keselamatan, keandalan sarana, ketepatan waktu, maupun kenyamanan pelanggan,” ujar Franoto.

Pasokan BBM Disiapkan Sesuai Kebutuhan Operasional

Kebutuhan bahan bakar untuk operasional kereta api dihitung berdasarkan jumlah perjalanan, jenis dan karakteristik sarana, serta kebutuhan operasional harian.

KAI melakukan perencanaan dan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan ketersediaan bahan bakar sesuai kebutuhan. Sejumlah depo juga memiliki fasilitas pengisian bahan bakar yang mendukung proses pengisian BBM secara terencana, terukur, dan terkendali.

Dengan perencanaan tersebut, kebutuhan bahan bakar dapat disesuaikan dengan pola operasional sehingga mendukung kelancaran perjalanan kereta api.

*Dukung Transisi Energi yang Berkelanjutan*

Pemanfaatan B50 menjadi salah satu bentuk dukungan KAI terhadap upaya pemerintah dalam meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati dan energi yang lebih berkelanjutan, khususnya pada sektor transportasi.

Sebagai moda transportasi massal, kereta api memiliki peran strategis dalam mendukung sistem transportasi yang efisien sekaligus berkelanjutan. Implementasi B50 menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut, dengan tetap memastikan aspek teknis, keselamatan, dan keandalan sarana menjadi pertimbangan utama.

“KAI akan terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penerapan B50. Kami mendukung pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan, namun pada saat yang sama keselamatan perjalanan, keandalan sarana, ketepatan waktu, dan kualitas pelayanan kepada pelanggan tetap menjadi prioritas utama,” tutup Franoto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *