Angkutan Petikemas KAI Tembus 4,44 Juta Ton hingga September 2026, Tumbuh 19,57 Persen

_Volume bertambah lebih dari 726 ribu ton saat perdagangan Indonesia dan arus barang global membutuhkan konektivitas darat–pelabuhan yang semakin andal_

FokusindonesialPergerakan petikemas melalui jaringan kereta api meningkat sepanjang sembilan bulan pertama 2026. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat 4.438.999 ton petikemas diangkut selama Januari–September 2026, naik 19,57 persen dibandingkan 3.712.477 ton pada periode yang sama tahun 2025. Kenaikan tersebut setara tambahan sekitar 726.522 ton barang yang bergerak melalui rel.

Petikemas menjadi komoditas terbesar dalam kelompok angkutan nonbatu bara KAI. Dari total 9.148.571 ton angkutan nonbatu bara hingga September 2026, sekitar 48,5 persen berasal dari petikemas. Secara keseluruhan, volume nonbatu bara tumbuh 2,6 persen dibandingkan 8.912.566 ton pada periode yang sama tahun lalu, sementara pendapatannya mencapai sekitar Rp1,095 triliun atau naik 7,2 persen.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan perkembangan petikemas penting dibaca sebagai bagian dari rantai logistik yang menghubungkan kawasan produksi, terminal darat, pelabuhan, dan pasar tujuan.

“Pertumbuhan hampir 20 persen menunjukkan ruang pemanfaatan rel untuk petikemas semakin besar. Karakter muatannya sesuai untuk perjalanan dengan volume tinggi, jadwal terencana, dan koridor distribusi yang konsisten,” ujar Anne.

Pertumbuhan tersebut berlangsung ketika aktivitas perdagangan Indonesia meningkat. BPS mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai US$193,64 miliar, naik 4,74 persen. Ekspor nonmigas mencapai US$185,63 miliar atau tumbuh 5,48 persen. Pada periode yang sama, impor mencapai US$186,39 miliar, meningkat 19,84 persen.

Dalam perdagangan internasional, keterhubungan antara pelabuhan dan wilayah hinterland menjadi bagian penting dari rantai pasok. UN Trade and Development mencatat transportasi laut membawa lebih dari 80 persen perdagangan dunia berdasarkan volume. Artinya, efisiensi perjalanan barang tidak berhenti di pelabuhan; barang tetap membutuhkan jaringan darat untuk bergerak menuju kawasan industri, gudang, pusat distribusi, maupun konsumen.

Kereta api memiliki peran pada bagian perjalanan darat tersebut. Rel dapat digunakan untuk membawa petikemas dalam jumlah besar pada perjalanan utama, sedangkan truk melayani pengambilan dan pengantaran pada first mile serta last mile. Pembagian fungsi ini memberi pelanggan logistik pilihan untuk menyusun pengiriman berdasarkan volume, jarak, jadwal, dan biaya.

KAI juga memetakan peluang pengembangan konektivitas petikemas baru. Dalam rencana jangka panjang perusahaan, salah satu inisiatif yang dikaji adalah konektivitas Terminal Petikemas Cilacap dengan jaringan kereta api nasional dan Terminal Petikemas Semarang, sebagai bagian dari pengembangan angkutan multimoda dan perluasan hinterland pelabuhan.

“Bagi pelanggan logistik, yang dicari adalah kepastian kapasitas, jadwal, dan perjalanan barang yang dapat direncanakan. KAI akan membaca koridor yang memenuhi karakter tersebut agar porsi angkutan petikemas melalui rel dapat terus berkembang,” tutup Anne.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *