Bersantai Akhir Pekan ke Stasiun Pasarnguter, Nikmati Seduhan Jamu Tradisional

_KA Batara Kresna bertarif Rp4.000 membuka akses menuju Pasar Jamu Nguter, sentra jamu yang tumbuh bersama ekonomi warga Sukoharjo_

Kabar17.id, Ada banyak cara untuk menghabiskan akhir pekan. Bagi sebagian orang, perjalanan singkat menuju suasana pedesaan menjadi cara sederhana untuk memulihkan energi. Di Kabupaten Sukoharjo, pengalaman itu dapat ditemukan di Nguter, sebuah kawasan yang lekat dengan aroma empon-empon, racikan herbal, pasar tradisional, dan cerita panjang para perajin jamu.

Di kawasan inilah Stasiun Pasarnguter berdiri. Ukurannya memang kecil, tetapi posisinya memiliki arti besar bagi warga sekitar. Stasiun ini menjadi akses terdekat menuju Pasar Jamu Nguter, sentra jamu tradisional yang dikenal luas sebagai salah satu pusat perdagangan jamu, tanaman herbal, dan bahan empon-empon di Indonesia.

Keberadaan Stasiun Pasarnguter memberi warna berbeda bagi perjalanan kereta api. Pelanggan yang turun di stasiun ini dapat melanjutkan perjalanan menuju area pasar untuk menikmati seduhan jamu, melihat aktivitas pedagang, hingga mengenal rantai ekonomi rakyat yang hidup dari pengetahuan turun-temurun tentang tanaman herbal.

Nguter memiliki ikatan kuat dengan budaya jamu. Banyak perajin dan pedagang jamu gendong lahir dari kawasan ini, lalu merantau ke berbagai daerah membawa racikan tradisional Jawa. Dari botol-botol jamu, bakul dagangan, hingga rempah yang diseduh hangat, Nguter menyimpan cerita tentang ketekunan, ekonomi keluarga, dan peran perempuan dalam menjaga pengetahuan tradisional.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Stasiun Pasarnguter memiliki nilai strategis karena berada dekat dengan simpul ekonomi lokal dan destinasi budaya yang khas.

“Stasiun Pasarnguter memiliki karakter yang sangat kuat karena terhubung dengan kehidupan masyarakat Nguter. Di sekitar stasiun, ada pasar jamu, perajin, pedagang, keluarga, dan wisatawan yang semuanya menjadi bagian dari perputaran ekonomi daerah. KAI ingin layanan kereta api hadir dekat dengan kebutuhan masyarakat seperti ini,” ujar Anne.

Nilai strategis Nguter juga terlihat dari data wilayahnya. Berdasarkan publikasi BPS Kecamatan Nguter Dalam Angka 2025, Kecamatan Nguter memiliki 56.015 penduduk. Dari jumlah tersebut, 37.997 jiwa berada pada kelompok usia produktif 15–64 tahun. Artinya, sebagian besar penduduk Nguter berada pada rentang usia yang aktif bekerja, berdagang, bertani, merantau, dan menjalankan usaha keluarga.

Aktivitas ekonomi itu ditopang pula oleh potensi pertanian dan biofarmaka. BPS mencatat produksi cabai rawit di Kecamatan Nguter mencapai 1.240 kuintal, produksi kunyit mencapai 287.500 kg, serta produksi mangga mencapai 13.530 kuintal. Data ini memperlihatkan bahwa Nguter memiliki basis ekonomi yang dekat dengan pasar tradisional, hasil bumi, dan komoditas herbal.

“Ketika sebuah stasiun berada dekat dengan pusat aktivitas warga, manfaatnya terasa luas. Ada pedagang yang lebih mudah bepergian, keluarga yang memiliki pilihan transportasi terjangkau, dan wisatawan yang dapat menjangkau destinasi lokal dengan lebih praktis. Inilah peran kereta api dalam membuka akses ekonomi skala mikro,” kata Anne.

Bagi wisatawan akhir pekan, perjalanan menuju Stasiun Pasarnguter dapat dilakukan menggunakan KA Batara Kresna relasi Purwosari–Wonogiri. Dengan tarif Rp4.000, pelanggan dapat menikmati perjalanan khas dari suasana perkotaan Solo, lintasan di sekitar Jalan Slamet Riyadi, hingga lanskap Sukoharjo yang semakin hijau menuju Nguter dan Wonogiri.

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Stasiun Pasarnguter melayani 1.805 pelanggan naik dan 1.201 pelanggan turun. Pergerakan 3.006 pelanggan tersebut menggambarkan fungsi Pasarnguter sebagai simpul mobilitas warga harian, pedagang tradisional, petani, pelajar, rombongan keluarga, serta wisatawan yang bepergian lintas Solo, Sukoharjo, dan Wonogiri.

Pergerakan pelanggan di Stasiun Pasarnguter juga memperlihatkan bahwa KA Batara Kresna memiliki peran penting dalam menjaga akses transportasi terjangkau di wilayah Solo Raya bagian selatan. Layanan ini membantu masyarakat menjangkau pasar, pusat kegiatan ekonomi, tempat belajar, serta ruang-ruang wisata lokal dengan biaya perjalanan yang ramah bagi keluarga.

Momentum pengakuan Jamu Wellness Culture oleh UNESCO pada 2023 sebagai warisan budaya takbenda juga memperkuat posisi Nguter sebagai ruang budaya yang bernilai. Bagi KAI, akses menuju kawasan seperti ini perlu terus dijaga karena kereta api dapat mempertemukan perjalanan, budaya, dan ekonomi masyarakat dalam satu pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Anne menambahkan, KAI melihat stasiun-stasiun kecil sebagai bagian penting dari pelayanan transportasi publik. Di banyak daerah, stasiun menjadi titik temu antara warga, pasar, sekolah, tempat kerja, dan destinasi lokal.

“KAI akan terus menjaga layanan di Stasiun Pasarnguter agar tetap aman, nyaman, dan mudah diakses. Kami berharap semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan kereta api untuk menikmati perjalanan akhir pekan, mengenal potensi daerah, serta mendukung ekonomi warga Sukoharjo,” tutup Anne.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *