Hampir Lima Dekade Fajar dan Senja Utama Solo, Menjaga Perjalanan Jakarta–Surakarta sejak 1978

_Berawal dari Senja Utama Solo dengan Kereta Buatan Yugoslavia, Layani 148 Ribu Pelanggan hingga Agustus 2026_

Jauh sebelum rangkaian berbahan baja nirkarat generasi terbaru hadir di lintas selatan Jawa, sebuah kereta malam berangkat dari Solo Balapan menuju Jakarta dengan membawa identitas baru bagi perjalanan masyarakat Surakarta. Pada 14 Oktober 1978, Senja Utama Solo mulai beroperasi melayani relasi Solo Balapan–Gambir. Hampir 48 tahun kemudian, perjalanan tersebut masih bertahan dalam layanan yang kini dikenal sebagai Fajar dan Senja Utama Solo.

Pada masa awalnya, Senja Utama Solo hadir sebagai kereta kelas bisnis. Rangkaiannya menggunakan kereta buatan Goša dari Yugoslavia, yang memiliki ciri khas delapan jendela pada masing-masing sisi kereta. Bentuk rangkaian tersebut menjadi bagian dari wajah perjalanan kereta kelas bisnis Indonesia pada periode itu.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, perjalanan Fajar dan Senja Utama Solo memperlihatkan perubahan pelayanan kereta api antarkota selama hampir lima dekade.

“Sejak Senja Utama Solo hadir pada 1978, beberapa generasi pelanggan telah tumbuh bersama layanan ini. Rangkaian, kelas pelayanan, dan fasilitasnya terus berubah, sementara nama Solo tetap menjadi bagian penting dari perjalanannya,” ujar Anne.

Ketika diluncurkan, Senja Utama Solo menghubungkan Solo Balapan dengan Gambir. Pilihan waktu perjalanan malam kemudian menjadi salah satu karakter yang melekat pada nama “Senja”. Kereta membawa pelanggan dari Surakarta menuju Jakarta melalui koridor Yogyakarta, Purwokerto, dan Cirebon, menghubungkan pusat kegiatan di Jawa bagian tengah dengan ibu kota.

Dalam perkembangannya, layanan pada koridor ini dikenal melalui dua nama yang mengikuti waktu perjalanannya yaitu Fajar Utama Solo untuk perjalanan yang berangkat dari Jakarta pada pagi hari menuju Solo dan Senja Utama Solo untuk perjalanan dari Solo menuju Jakarta pada malam hari. Saat ini keduanya melayani lintas Pasar Senen–Solo Balapan melalui Yogyakarta dan Purwokerto.

Catatan sejarah mengenai layanan Fajar dan Senja Utama Solo juga perlu dibaca secara kronologis. Sumber sejarah secara konsisten mencatat Senja Utama Solo diluncurkan pada 14 Oktober 1978, sementara beberapa catatan menyebut perjalanan pagi Fajar Utama Solo berkembang kemudian. Karena itu, 14 Oktober 1978 lebih tepat ditempatkan sebagai awal perjalanan Senja Utama Solo, yang kemudian berkembang menjadi pasangan layanan Fajar dan Senja Utama Solo seperti dikenal saat ini.

Perjalanan Senja Utama Solo tidak berhenti pada kereta bisnis. Memasuki dekade 1990-an, komposisi rangkaiannya sempat semakin beragam. Kereta ini tercatat pernah membawa kereta eksekutif-A, eksekutif-B, serta couchette, yakni kereta tidur yang dilengkapi tempat tidur tetap.

Catatan pada 25 November 1994 bahkan mencantumkan tarif layanan couchette sebesar Rp33.000. Kehadiran fasilitas tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan malam Solo–Jakarta pada periode itu pernah menawarkan pengalaman beristirahat di atas kereta yang berbeda dari konfigurasi tempat duduk reguler. Setelah periode tersebut, rangkaiannya kembali menggunakan layanan bisnis.

“Setiap periode memiliki karakter pelayanan sendiri. Riwayat Fajar dan Senja Utama Solo mencatat fase kereta bisnis, pernah membawa layanan eksekutif dan couchette, hingga berkembang menjadi layanan dengan sarana generasi terbaru,” kata Anne.

Perjalanan panjang kereta ini juga dapat dibaca dari asal sarananya. Jika pada 1978 Senja Utama Solo memulai perjalanan dengan rangkaian Goša buatan Yugoslavia, beberapa dekade kemudian modernisasi membawa kereta buatan dalam negeri ke layanan tersebut.

Pada 2016, layanan eksekutif kembali menjadi bagian dari Fajar dan Senja Utama Solo. Kemudian mulai 21 Mei 2018, kereta ini menggunakan rangkaian berbahan baja nirkarat produksi PT INKA, dengan layanan kelas eksekutif dan ekonomi premium.

Perubahan berikutnya terjadi ketika Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2019 berlaku pada 1 Desember 2019. Pengaturan perjalanan membuat keberangkatan dari Jakarta berlangsung pada pagi hari, sedangkan perjalanan dari Solo dilakukan pada malam hari. Penamaan layanan kemudian menyesuaikan karakter waktunya yaitu Fajar Utama Solo menuju Solo dan Senja Utama Solo menuju Jakarta.

Dengan demikian, kata Fajar dan Senja pada layanan ini memiliki hubungan langsung dengan waktu perjalanan. Dua nama tersebut kemudian menjadi identitas yang mudah dikenali pelanggan pada koridor Jakarta–Surakarta.

Babak modernisasi berikutnya berlangsung pada 31 Januari 2025. Fajar dan Senja Utama Solo mulai menggunakan rangkaian campuran kelas eksekutif dan ekonomi generasi terbaru berbahan baja nirkarat produksi PT INKA Madiun.

Perubahan tersebut membentuk kontras menarik dalam perjalanan hampir lima dekade layanan ini. Pada 1978, pelanggan Senja Utama Solo melakukan perjalanan menggunakan kereta bisnis buatan Yugoslavia. Kini pelanggan menggunakan sarana generasi terbaru yang diproduksi di Indonesia.

Rentang sejarah tersebut memperlihatkan perubahan industri perkeretaapian Indonesia dari penggunaan rangkaian produksi luar negeri pada masa lalu menuju penggunaan sarana yang dikembangkan industri nasional.

Usia panjang Fajar Utama Solo berjalan bersama permintaan perjalanan yang tetap terjaga. Berdasarkan data KAI, sepanjang Januari–Agustus 2026 Fajar Utama Solo melayani 148.669 pelanggan, meningkat 7,65 persen dibandingkan 138.102 pelanggan pada periode yang sama tahun 2025.

Sepanjang delapan bulan pertama 2026, jumlah pelanggan tercatat 17.540 pelanggan pada Januari, 14.036 pada Februari, 21.068 pada Maret, 18.049 pada April, 18.995 pada Mei, 20.335 pada Juni, 19.656 pada Juli, dan 18.990 pelanggan pada Agustus.

Maret menjadi bulan dengan volume pelanggan tertinggi sepanjang Januari–Agustus 2026, mencapai 21.068 pelanggan. Secara kumulatif, terdapat tambahan 10.567 pelanggan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut memberi konteks baru pada perjalanan sebuah layanan yang akarnya telah ada sejak 1978. Nama, jadwal, kelas pelayanan, stasiun terminus, dan rangkaian mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman, tetapi koridor yang menghubungkan Jakarta dengan Surakarta tetap memiliki tempat dalam mobilitas masyarakat.

Dari Senja Utama Solo menuju Gambir dengan kereta bisnis Goša pada 1978, fase couchette pada dekade 1990-an, hadirnya kembali kelas eksekutif, penggunaan rangkaian baja nirkarat produksi INKA, hingga generasi terbaru pada 2025, hampir lima dekade perjalanan kereta api ini juga merekam perkembangan pelayanan kereta api antarkota di Indonesia.

“Sejarah panjang Fajar dan Senja Utama Solo terus berlanjut melalui pelanggan yang masih memilih layanan ini hingga sekarang. KAI akan menjaga identitas historisnya sambil terus mengembangkan kualitas perjalanan sesuai kebutuhan pelanggan,” tutup Anne.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *