KAI Gelar Groundbreaking Hunian Manggarai, Dekatkan Tempat Tinggal dengan Transportasi Publik

_Lahan sekitar 2,2 hektare dikembangkan untuk 3.784 unit hunian yang terhubung dengan angkutan massal_

PT Kereta Api Indonesia (Persero) memulai pembangunan Hunian Manggarai melalui groundbreaking di kawasan Manggarai, Jakarta, Jumat (21/8). Pengembangan hunian vertikal tersebut menjadi bagian dari dukungan KAI terhadap Program 3 Juta Rumah sekaligus optimalisasi aset perkeretaapian untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Kawasan Manggarai memiliki tingkat mobilitas yang tinggi. Stasiun Manggarai saat ini melayani sekitar 162 ribu pelanggan setiap hari dengan sekitar 700–750 perjalanan kereta api per hari, termasuk Commuter Line Jabodetabek dan Commuter Line Basoetta.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengatakan penyediaan hunian terjangkau membutuhkan kolaborasi antarpemangku kepentingan agar program dapat berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.

“Kita tidak bisa bekerja sendirian. Kolaborasi menjadi penting agar penyediaan rumah bagi masyarakat dapat berjalan lebih cepat. Di Manggarai, KAI bersama para pihak terkait membangun hunian vertikal di tengah kota yang nantinya dapat dimanfaatkan masyarakat dengan harga terjangkau,” ujar Maruarar.

Maruarar juga mendorong pemanfaatan aset KAI di lokasi lain yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai hunian terintegrasi transportasi publik.

“Ini kami harapkan dapat diteruskan di tempat lain. Di kawasan stasiun yang memiliki lahan dan akses transportasi yang baik, pengembangan seperti ini dapat kembali dilakukan untuk masyarakat,” kata Maruarar.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan pengembangan Hunian Manggarai membawa tiga prinsip utama, yaitu layak, terjangkau, dan berkelanjutan.

“Layak berarti memenuhi standar keselamatan, kualitas, kenyamanan, dan fungsi hunian. Terjangkau berarti pengembangannya mengikuti kebijakan dan skema pemerintah bagi masyarakat yang menjadi sasaran. Berkelanjutan mencakup pemanfaatan lahan secara efisien, keterhubungan dengan angkutan massal, kepatuhan terhadap lingkungan, serta pengelolaan kawasan dalam jangka panjang,” ujar Bobby.

Bobby mengatakan optimalisasi aset perkeretaapian dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap menempatkan keselamatan dan kelancaran layanan kereta api sebagai prioritas.

“Pengembangan hunian di Manggarai diarahkan agar masyarakat dapat tinggal di tengah kota dengan akses yang dekat terhadap transportasi publik. Pada saat yang sama, KAI memastikan optimalisasi aset tetap sejalan dengan keselamatan dan kelancaran operasional kereta api,” kata Bobby.

Hunian Manggarai dikembangkan di atas lahan sekitar 2,2 hektare, yang terdiri dari Blok G sekitar 7.000 meter persegi dan Blok F sekitar 1,5 hektare. Lahan pengembangan merupakan aset milik KAI.

Rencana pengembangan mencakup delapan tower hunian vertikal setinggi 24 lantai dengan total 3.784 unit hunian. Sebanyak 1.276 unit direncanakan berada di Blok G dan 2.508 unit di Blok F.

Kawasan tersebut juga direncanakan dilengkapi 150 unit retail pendukung, terdiri dari 72 unit di Blok G dan 78 unit di Blok F.

Blok G direncanakan memiliki tiga tower dengan pilihan hunian mulai dari tipe studio 28, tipe 36 dengan dua kamar tidur, hingga tipe 45 dengan dua kamar tidur. Sementara Blok F direncanakan memiliki lima tower dengan pilihan tipe 36, tipe 45, hingga tipe 52 dengan tiga kamar tidur.

Pembangunan secara keseluruhan direncanakan berlangsung selama 18 bulan sejak pelaksanaan groundbreaking.

Bobby menegaskan bahwa hunian di tengah kota tersebut diarahkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah sesuai kualifikasi dan ketentuan yang ditetapkan pemerintah.

“Kami akan menjaga tata kelolanya agar hunian yang disiapkan di tengah kota ini dapat menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah sesuai kualifikasi yang telah ditetapkan pemerintah,” tutup Bobby.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *